“Korban sedang melakukan pendakian, kemudian cuaca berubah hujan. Saat hendak mengambil dokumentasi di puncak, petir menyambar mengenai rombongan tersebut,” papar Arif Anwar secara rinci.
Merespons laporan darurat tersebut, komando pos segera menurunkan personel. Proses evakuasi ini bukanlah tugas yang mudah mengingat lokasi kejadian berada di ketinggian dan akses yang sangat terbatas. Tim respon cepat yang terdiri dari 22 personel gabungan mulai dari unsur Basarnas, Damkar Maros, BPBD Maros, SAR Unhas, komunitas pecinta alam, PMI, hingga relawan masyarakat berangkat menuju lokasi dan tiba di kaki gunung sekitar pukul 23.30 WITA.
Medan Terjal dan Gelap Jadi Tantangan Utama
Gunung Monrolo memiliki ketinggian sekitar 1.109 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Karakteristik gunung ini dikenal sangat ekstrem dengan kontur tanah yang berbatu, terjal, dan memiliki beberapa tebing curam. Kondisi ini diperparah dengan minimnya penerangan saat proses evakuasi berlangsung di tengah malam.
“Medan yang dihadapi tim cukup berat, gunungnya terjal dan berbatu. Bahkan ada beberapa titik yang mengharuskan tim menggunakan teknik tali karena kemiringannya yang ekstrem. Kendala teknis ini membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dari perhitungan awal,” ungkap Kepala Basarnas.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.










