Tragedi Pasangkayu: Pemuda 25 Tahun Diterkam Buaya Saat Mencari Ikan di Pantai

  • Bagikan
BUAYA TERLIHAT DI PERAIRAN PANTAI MESJID TRAPUNG PASANGKAYU SAAT PENCARIAN MALAM — Rekaman Langsung Hewan Buas Menyusuri Air, Pesisir Sulawesi Barat 30 Agustus 2026! (Foto dok: istimewa).

PASANGKAYU, TOKCER. NEWS — Duka mendalam menyelimuti warga Dusun Parappa, Kabupaten Pasangkayu. Sebuah peristiwa mengerikan terjadi tadi malam di Pantai Mesjid Trapung: seorang pemuda bernama Inisial TH, 25 tahun, tewas diterkam buaya saat hendak pergi menangkap ikan di perairan setempat.

Berita duka itu disebarkan akun media sosial Arham, pada Minggu (30/8/2026) dan seketika mengguncang warga luas. Ribuan orang merespons dengan doa belasungkawa: “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.” Kabar menyedihkan ini tak hanya berduka atas satu nyawa yang hilang, namun juga membuka mata lebar-lebar bahwa bahaya senantiasa mengintai di perairan pesisir Pasangkayu.

FOTO : Perahu karet Basarnas menyisir perairan gelap malam Pantai Mesjid Trapung, menyala lampu pencari menembus samar malam demi jejak korban. (Dok: Warga/ Arham).

Segera setelah laporan diterima, pada Sabtu malam (29/8/2026), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tak menunda sedetik pun. Perahu karet segera diluncurkan membelah air dingin di bawah gelap gulita malam, didampingi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD), tim SAR gabungan, serta kepolisian. Rekaman video yang beredar memperlihatkan sorotan lampu di atas perahu karet terus bergerak maju — tak kenal lelah meski bahaya mengintai di setiap gelombang.

FOTO : Tim SAR gabungan bahu-membahu di tepi pantai, hati-hati namun sigap menurunkan jenazah dari perahu evakuasi ke pelukan keluarganya. (Dok: Warga/ Arham).

Pencarian sepanjang malam akhirnya berbuah hasil. Jenazah berhasil ditemukan dan diangkat ke darat. Rekaman memperlihatkan momen menyayat hati: tangan-tangan beragam seragam saling menyambung — oranye SAR, biru kepolisian, pakaian warga biasa — semuanya bergerak serasi memindahkan jenazah dengan penuh hormat seakan sedang mengantar pahlawan pulang.

FOTO : Suasana hening di rumah duka — jenazah terbaring ditutup kain, Basarnas, BPD, Polisi, dan warga berjejer berdiri sejenak mempersilakan almarhum beristirahat tenang. (Dok: Warga/ Arham).

Di ruang sederhana yang remang itu, tak ada pangkat, tak ada jabatan. Semua berdiri setinggi bahu — berduka sama, berdoa sama. Cahaya satu lampu pijar seakan merangkul keharuan ratusan mata yang berkaca-kaca.

Ancaman Lama yang Sering Terlupakan

                               
Dilarang keras mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.
  • Bagikan
Home
Search
Lainnya
×