Sementara birokrasi memandang dialog ini sebagai ruang memperkaya perspektif. Masukan akademisi dan kritik pers membantu pemerintah melihat celah yang luput. Tujuannya satu: pelayanan publik makin akurat.
Diskusi makin hidup saat merambah ekonomi kreatif. Pemilik D’Rannu Coffee Garden, Syafriadi Ranca, menyebut kedai kopi adalah ruang demokrasi. “Di sini semua setara. Tidak ada pangkat, tidak ada jabatan,” katanya.
Kehadiran Sulis Windarti, finalis Duta Genre Bantaeng 2025, menegaskan pentingnya suara anak muda dalam merancang masa depan.
Pertemuan berakhir tanpa notulen resmi. Tapi meninggalkan satu benang merah: sinergi tidak harus dimulai dari sidang formal. Secangkir kopi, kesediaan mendengar, dan saling menghargai justru melahirkan gagasan yang jujur dan tahan lama.
Malam itu di D’Rannu menjadi bukti. Gagasan besar untuk Bantaeng lahir bukan dari mimbar megah, melainkan dari kebersamaan.
(IAB/R-TN).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.










