Sementara mengutip, sahur identik dengan nuansa Ramadhan. Sebab, saat puasa di Bulan Ramadhan, kita disunahkan makan di waktu sahur. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam anjuran Nabi untuk sahur tersebut, ternyata terdapat keutamaan lain yang juga disunahkan, meski sebenarnya tidak terkhusus pada waktu sahur. Keutamaan itu ialah beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Setidaknya ada dua dalil dalam Alquran yang menyinggung tentang keutamaan istighfar di waktu sahur.
Pertama, surah Adzdzariyat ayat 18. Allah SWT berfirman: وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ “Dan pada akhir malam, mereka memohon ampunan (kepada Allah).” Di dalam tafsir al-Sa’di, ayat di atas ditafsirkan sebagai gambaran orang bergelar muhsinin, yang berkaitan dengan ayat sebelumnya.
Bahwa ciri orang muhsinin adalah mereka memperpanjang salat sampai waktu sahur. Kemudian mereka menutup salat malamnya dengan duduk beristighfar kepada Allah layaknya istighfar seorang pendosa untuk dosanya. Istighfar di waktu sahur ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki waktu lain.
Mengapa mereka mesti beristighfar, padahal shalat malam saja sudah menjadi ibadah yang sangat baik? Ternyata, menutup istighfar menunjukkan bahwa seorang hamba merasa ibadahnya tersebut masih mengandung banyak kekurangan. (al-Tahrir wa at-Tanwir, 25360).
Dikutip dari Liputan6.com.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.








